Oleh Mas ud HMN
Ada yang menarik soal perubahan
politik Malaysia kini. Yaitu kian kuat dan lantangnya suara oposisi pakatan rakyat (PR) menentang
Barisan Nasional (BN) sebagai partai berkuasa. Isu ini muncul ke publik Malaysia
menjelang pilihan raya selambat-lambatnya
tahun 2013. Bisa juga dipercepat kalau pemerintah menghendakinya.
Bagaimana kita menganalisa (arah) perubahan Malaysia tersebut. Apakah BN masih
bertahan atau PR akan mengambil alih pemerintahan masa depan. Pertanyaan ini
ingin dijawab dengan dua pendekatan. Pertama,
pendekatan faktor geo politik kawasan. Dan kedua, faktor dukungan pihak luar.
Pertama, pendekatan geo politik. Hal ini dipahami sebagai aspirasi umum yang ada
dalam kawasan ini, misalnya masalah kebebasan, masalah ekonomi dan kekuasan
politik. Sebuah perubahan sesungguhnya bisa dipahami dari aksi-aksi sosial yang
ada baik yang dilatarbelakangi unsur ekonomi, kebebasan dan kekuasaan politik (Max
Weber 1982).
Pada saat ini aksi dan tuntutan itu sudah disuarakan dengan lantang di
Malaysia. Misalnya tuntutan kebebasan untuk berekspresi menyatakan pendapat di muka
umum, juga tuntutan persamaan dalam kebijakan ekonomi. Termasuk juga tuntutan
untuk mencabut undang-undang keamanan dalam negeri ISA (internal security act).
Di samping itu ada yang perlu dicatat juga, ada keraguan pada kebijakan Kuala
Lumpur terhadap kesempatan daerah Negara Bagian di luar semenanjung dalam
pembangunan. Kebijakan yang dibuat Perdana Menteri Najib Razak yaitu Malaysia One dianggap
lebih merupakan kepentingan Semananjung belaka di luar Sabah dan Serawak sehingga
unsur geo politik yang muncul dari Sabah dan Serawak cenderung kepada
perubahan.
Yang kedua, pendekatan dukungan luar negeri. Secara umum
dukungan luar negeri kepada oposisi sangatlah terbatas. Apa lagi hubungan dengan
Indonesia yang sangat penting bagi Malaysia. Begitu juga dengan negara Asean yang lain
Malaysia menggalang kerjasama yang kuat.
Namun demikian, oposisi di bawah pimpinan Anwar
Ibrahim memiliki hubungan pribadi yang kuat dengan negara Barat termasuk Australia,
Turki dan India. Peran Anwar Ibrahim telah juga menjembatani kepentingan
oposisi Malaysia dan Indonesia terhadap negara tersebut.
Dukungan Australia jelas. Khususnya untuk Anwar
Ibrahim pribadi ditampakkan oleh perlemen Australia beberapa tahun lalu
berkunjung ke Kuala Lumpur untuk mendesak
Pengadilan Malaysia agar menghentikan pengadilan terhadap kasus Anwar
Ibrahim. Tetapi pengadilan Malaysia menolak hal itu, jadi dapat dipahami bahwa
Anwar Ibrahim itu mendapat dukungan dari pemerintah Australia.
Bagaimana pula dukungan Amerika atau negara
Barat? Dukungan Amerika atau negara Barat terhadap Anwar Ibrahim dapat dilihat
dari peran Anwar Ibrahim sendiri. Misalnya kedekatan hubungan Anwar Ibrahim
dengan Bank Dunia serta IMF. Yang di masa era Mahathir telah menjadi bibit
konflik antara Anwar Ibrahim dan Mahatir Muhammad.
Belakangan hal itu terkuak kembali. Yaitu ketika
awal kisruhnya Bank Century dengan melibatkan Menteri Keuangan Indonesia, Sri
Mulyani. Bagaimana kasus Bank Century diambangkan untuk kemudian ditutup, lalu
memindahkan Sri Mulyani ke luar negeri agar kasusnya tidak diutak-utik (Melayu Pos 16
Sept. 2010).
Tidak bisa dibantah, ini menjadi beban
pemerintah Indonesia di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebuah
sumber informasi menyatakan Anwar Ibrahimlah yang sangat berjasa kontak dengan
Bank Dunia. Ia beperan dalam “mengatur”
untuk memindahkan Sri Mulyani menjadi orang penting menduduki jabatan di Bank
Dunia. Hal itu terjadi setelah Anwar Ibrahim pada satu pagi berkomunikasi
dengan Presiden SBY. Maka terbebaslah Presiden SBY dari satu soal yang berat.
Inilah agaknya dua faktor yang bermain untuk
perubahan kekuasaan di Malaysia. Yaitu kekuatan geo politik intern dan kawasan
terdekat. Yang tidak bisa dipandang enteng adalah faktor pengaruh Barat dan
Amerika dalam menbentuk tuntutan perubahan di Malaysia.
Di atas
semua itu, meskipun itu faktor memicu perubahan tapi perubahan sesungguhnya ditentukan hasil pilihan raya. Pilihan raya
itu belum berlangsung, pilihan raya itu kunci pelaksnaannya terletak di bawah
kepemimpinan Perdana Menteri Najib Razak sebagai pemegang kekuasaan
pemerintahan Barisan Nasional (BN), posisi strategisnya berada selangkah di depan
dibanding kelompok oposisi (PR).
Kita memerlukan kepastian perubahan di Malaysia,
yaitu satu perubahan yang memajukan kawasan yang bebas dari negara luar. Oleh
karena itu haruslah mengeratkan hubungan persatuan yang telah ada. Bekerja
dalam semangat zaman yang maju, berkesejahteraan dan damai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar