Selasa, 03 Januari 2012

Menganalisa Perubahan di Malaysia


Oleh Mas ud HMN

Ada yang menarik soal perubahan politik Malaysia kini. Yaitu kian kuat dan lantangnya  suara oposisi pakatan rakyat (PR) menentang Barisan Nasional (BN) sebagai partai berkuasa. Isu ini muncul ke publik Malaysia menjelang pilihan raya selambat-lambatnya  tahun 2013. Bisa juga dipercepat kalau pemerintah menghendakinya. Bagaimana kita menganalisa (arah) perubahan Malaysia tersebut. Apakah BN masih bertahan atau PR akan mengambil alih pemerintahan masa depan. Pertanyaan ini ingin dijawab dengan  dua pendekatan. Pertama, pendekatan faktor geo politik kawasan. Dan kedua, faktor dukungan pihak luar.


Pertama, pendekatan geo politik. Hal ini dipahami sebagai aspirasi umum yang ada dalam kawasan ini, misalnya masalah kebebasan, masalah ekonomi dan kekuasan politik. Sebuah perubahan sesungguhnya bisa dipahami dari aksi-aksi sosial yang ada baik yang dilatarbelakangi unsur ekonomi, kebebasan dan kekuasaan politik (Max Weber 1982).


Pada saat ini aksi dan tuntutan itu sudah disuarakan dengan lantang di Malaysia. Misalnya tuntutan kebebasan untuk berekspresi menyatakan pendapat di muka umum, juga tuntutan persamaan dalam kebijakan ekonomi. Termasuk juga tuntutan untuk mencabut undang-undang keamanan dalam negeri ISA (internal security act).


Di samping itu ada yang perlu dicatat juga, ada keraguan pada kebijakan Kuala Lumpur terhadap kesempatan daerah Negara Bagian di luar semenanjung dalam pembangunan. Kebijakan yang dibuat Perdana Menteri Najib Razak yaitu Malaysia One dianggap lebih merupakan kepentingan Semananjung belaka di luar Sabah dan Serawak sehingga unsur geo politik yang muncul dari Sabah dan Serawak cenderung kepada perubahan.


Yang kedua, pendekatan dukungan luar negeri. Secara umum dukungan luar negeri kepada oposisi sangatlah terbatas. Apa lagi hubungan dengan Indonesia yang sangat penting bagi Malaysia. Begitu juga dengan negara Asean yang lain Malaysia menggalang kerjasama yang kuat.


Namun demikian, oposisi di bawah pimpinan Anwar Ibrahim memiliki hubungan pribadi yang kuat dengan negara Barat termasuk Australia, Turki dan India. Peran Anwar Ibrahim telah juga menjembatani kepentingan oposisi Malaysia dan Indonesia terhadap negara tersebut.


Dukungan Australia jelas. Khususnya untuk Anwar Ibrahim pribadi ditampakkan oleh perlemen Australia beberapa tahun lalu berkunjung ke Kuala Lumpur untuk mendesak  Pengadilan Malaysia agar menghentikan pengadilan terhadap kasus Anwar Ibrahim. Tetapi pengadilan Malaysia menolak hal itu, jadi dapat dipahami bahwa Anwar Ibrahim itu mendapat dukungan dari pemerintah Australia.     


Bagaimana pula dukungan Amerika atau negara Barat? Dukungan Amerika  atau negara  Barat terhadap Anwar Ibrahim dapat dilihat dari peran Anwar Ibrahim sendiri. Misalnya kedekatan hubungan Anwar Ibrahim dengan Bank Dunia serta IMF. Yang di masa era Mahathir telah menjadi bibit konflik antara Anwar Ibrahim dan Mahatir Muhammad.


Belakangan hal itu terkuak kembali. Yaitu ketika awal kisruhnya Bank Century dengan melibatkan Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani. Bagaimana kasus Bank Century diambangkan untuk kemudian ditutup, lalu memindahkan Sri Mulyani ke luar negeri agar kasusnya tidak diutak-utik (Melayu Pos 16 Sept. 2010).


Tidak bisa dibantah, ini menjadi beban pemerintah Indonesia di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebuah sumber informasi menyatakan Anwar Ibrahimlah yang sangat berjasa kontak dengan Bank Dunia. Ia beperan dalam “mengatur” untuk memindahkan Sri Mulyani menjadi orang penting menduduki jabatan di Bank Dunia. Hal itu terjadi setelah Anwar Ibrahim pada satu pagi berkomunikasi dengan Presiden SBY. Maka terbebaslah Presiden SBY dari satu soal yang berat.


Inilah agaknya dua faktor yang bermain untuk perubahan kekuasaan di Malaysia. Yaitu kekuatan geo politik intern dan kawasan terdekat. Yang tidak bisa dipandang enteng adalah faktor pengaruh Barat dan Amerika dalam menbentuk tuntutan perubahan di Malaysia.


Di atas  semua itu, meskipun itu faktor memicu perubahan tapi perubahan sesungguhnya  ditentukan hasil pilihan raya. Pilihan raya itu belum berlangsung, pilihan raya itu kunci pelaksnaannya terletak di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Najib Razak sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan Barisan Nasional (BN), posisi strategisnya berada selangkah di depan dibanding kelompok oposisi (PR).


Kita memerlukan kepastian perubahan di Malaysia, yaitu satu perubahan yang memajukan kawasan yang bebas dari negara luar. Oleh karena itu haruslah mengeratkan hubungan persatuan yang telah ada. Bekerja dalam semangat zaman yang maju, berkesejahteraan dan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar